Kamis, 21 Februari 2008

membaca desainer grafis membaca

Graphic designer don’t read
by : Wiwi Isnaini

Seorang perancang grafis sekaligus penulis yang bernama Matt Soar, mengatakan katanya banyak yang beranggapan perancang grafis tidak rajin membaca bahkan dengan pesimis dia mengatakan jangan-jangan bukunya dibeli dan dibaca oleh seorang yang non-graphic designer. Dan begitulah yang terjadi ketika ada orang yang tadinya tidak belajar desain komunikasi visual secara formal tapi kok mengerjakan desain grafis, ngomong tentang desain grafis dan hidup dari mendesain grafis?. Ketika kita mengikut sertakan karya desain dalam sebuah ajang lomba (entah logo ataupun iklan), ternyata saingan kita tidak hanya berasal dari mahasiswa dan profesi desainer grafis, tapi dari segala jurusan, Lho bagaimana ini?.

”Ya sudah memang sekarang jamannya seperti itu!”, kata yang gak mau susah, ”Ini kan era barrier free, era informasi, borderless dan sebagainya yang ujung-ujungnya desain grafis milik semua orang, komputer banyak yang sudah punya, siapa saja yang bisa software grafis dan bisa gambar, bisa jadi desainer grafis!” Ah kalau ada yang bilang begini suka jadi desperate deh!. Iya sih kalau sekedar komposisi, taruh bidang disini, taruh gambar disitu, pilih warna, pilih font yang manasuka, ya sudah ! klik sana, klik sini, gak cocok tinggal ctrl z, undo, retouch sedikit, kasih sulur-sulur , tambahin daun dan bunga yang lagi menjamur jangan lupa pakai vector art, A-ha! jadilah desain grafis, desain grafis yang mudah dilupakan, tak berefek dan tak bergaung, serta menuh-menuhin tempat sampah.

Bagi seorang desainer yang mengklaim diri sebagai orang kreatif, membaca berarti banyak hal; membaca seperti pengertian umum tadi, menyimak lingkungan sekitar, mengamati berbagai kejadian, menonton tayangan film, melihat iklan, pertunjukkan wayang, berinteraksi disepanjang jalan, melihat orang sibuk tawar menawar di kaki lima, mengantri di ATM, melihat gadis cantik, melirik cowok yang wangi, mendengar curhat teman adalah membaca. Mengingat dkv sendiri memiliki ikatan dengan social milieu atau suasana kemasyarakatan, maka semua yang ada dilingkungan sekelilingnya adalah bahan bacaan yang memberi pengetahuan, wawasan, pengayaan, bahan renungan dan hiburan yang tentunya diperlukan disaat seorang perancang memecahkan masalah komunikasi visual secara kreatif. Hal diatas benar adanya tapi bisa jadi terasa sebagai sebuah pembenaran, artinya siapa bilang desainer grafis nggak suka membaca?.

Kembali ke topik , membaca diartikan sebagai menyimak rangkaian huruf-huruf, angka dan tanda baca ( karakter) menjadi kata kemudian menjadi kalimat-kalimat dalam beberapa paragraf berupa pokok pikiran dan membentuk sebuah makna yang dapat ditangkap maksudnya, tersurat diatas selembar kertas, didalam sebuah buku, koran, majalah tabloid, running text, SMS, internet atau apa saja yang memang bisa dibaca.

Kegiatan membaca dalam artian umum adalah mencari informasi dari membaca ( teks atau hyperteks) menafsirkan isi dan menyimpan dalam memori kita untuk kemudian dikeluarkan kembali suatu hari disaat diperlukan. Mencari informasi sesuai dengan bidang yang kita dalami, desain grafis, multimedia dan advertising, seni rupa, desain secara umum, seputar problem solving, bahasa visual, linguistik ( karena desain grafis juga berakar dari bahasa), menyimak teori-teori komunikasi visual, tentang kreativitas dan bagaimana menjadi kreatif, informasi teknologi cetak, mencoba memahami apa dan bagaimana brand dan branding, apa itu information design, apa itu creative economy, dan apa gerangan knowledge economy, apa maksudnya serial monotony, apa perlunya differenciate, kenapa kalau ga differenciate kita die? Membaca yang seperti inilah yang jarang sekali dilakukan oleh para calon desainer grafis, kalaupun (terpaksa) membaca , ya brief seputar masalah yang lagi jadi project saja atau yang paling sering dibaca adalah software tutorial dan buku buku yang sifatnya referensi visual. Mungkin tidak jarang pekerjaan desainer grafis dianggap pekerjaan non-intellectual dan non-literary karena hanya mengedepankan keterampilan visual dan hanya bersifat permukaan (profan). Harus diakui bahwa membaca-pun harus dipelajari dan dilatih, diperlukan stamina dalam membaca teks-teks sulit. Menurut Quentin Newark, desainer yang paling rajin membacapun masih kurang jumlah membacanya jika dibandingkan dengan profesi lain seperti sosiolog, sastrawan dan profesi engineering. Padahal tidak ada alasan bagi seorang perancang untuk knowless, jadi jika seorang perancang grafis ingin berbuat lebih banyak untuk lingkungannya, ia harus tahu lebih banyak.

Menurut Max Bruinsma, yang situsnya
www.maxbruinsma.nl (sebagian besar mahasiswa desain grafis di dunia, mengakses situs ini, coba deh di klik!) seorang perancang grafis mempunyai tanggung jawab tidak hanya sebagai problem solver tapi bertanggung jawab dalam menciptakan perubahan besar, bukan karena ia mampu membuat dan menyajikan bahasa rupa yang ’apealling’ tapi karena ia harus mampu bahkan ahli dalam hal komunikasi yang imajinatif serta membangun pesan yang dapat dipahami khalayak luas. Oleh sebab itu seorang desainer grafis adalah agen budaya, berasal dari kebudayaan dan turut membentuk kebudayaan dan menjadi jembatan antar budaya dalam masyarakat. Dalam kondisi sekarang dimana jaringan begitu kuatnya, ada yang harus dipedulikan oleh seorang desainer dalam bekerja, budaya, sub-budaya, gaya hidup, kelompok organisasi, komunitas khusus, special interest dan berbagai hal yang dalam kehidupan sehari-hari saling mempengaruhi. Semuanya adalah informasi berharga.



Peran pendidikan desain?
Dunia bisnis sudah berubah banyak, desain grafis berkembang menjadi desain komunikasi visual ( meskipun kurang lebih secara definisi tak jauh berbeda) , ketika perilaku membeli masyarakat sudah berubah banyak, dari mencari feature, ke benefit lalu ke experience kemudian ke tribal identification (Marty Neumeyer, the Brand Gap), ketika perilaku mengakses informasi sudah jauh berbeda dengan mengakses informasi di akhir tahun delapan-puluhan dan disaat masyarakat membutuhkan kebaruan yang bersifat here and now, kebanyakan pendidikan desain komunikasi visual masih menggunakan jurus-jurus lama. Memang tidak semuanya obsolete, tentang seni rupa, sampai saat ini nilai-nilai pendidikan Bauhaus masih dipakai oleh semua pendidikan desain, harmoni, warna, irama, keseimbangan dan kesatuan masih sama seperti dulu hukumnya, begitu pula dengan gambar anatomi manusia belum ada perubahan, tapi tentang komunikasi visual dimana banyak hal baru terjadi, masih banyak ajaran yang sudah usang namun tetap digunakan, banyak teori yang sudah basi tapi masih diberikan. Banyak strategi-strategi konvensional masih jadi andalan. Kesemuanya berguna untuk diketahui tapi pada penerapannya tentu perlu disandingkan dengan teori-teori baru. Metoda pemecahan masalah cara baru perlu juga dijelajah agar menghasilkan solusi dengan kreativitas yang segar dan relevan secara look and feel.

Di lingkungan pendidikan desain, gairah membaca yang rendah inilah yang menjadi salah satu biang keladi kenapa bahasan dan kajian mahasiswa itu-itu saja dari tahun ke tahun, topik kampanye yang itu-itu lagi, Corporate Identity lagi, bikin buku cerita lagi, Graphic novel lagi, alat bermain lagi, video klip lagi dan kehadiran merchandise yang ga kreatif dan dipaksakan, metoda yang digunakan itu-itu lagi, yang berubah hanya mahasiswa yang menggarapnya, setiap mahasiswa, pengajar sekaligus pendidik, tentunya berkewajiban membuka pintu kajian selebar-lebarnya, untuk membuka pintu yang lebih banyak, perlu kunci yang lebih beragam pula, kuncinya adalah kekayaan pemikiran yang salah satu sumbernya adalah membaca.

Desain komunikasi visual sejauh yang saya ketahui adalah sebuah kegiatan menyampaikan pesan ( message making, meaning making) melalui visual secara kreatif berbasis seni dan bahasa pada media dua, tiga dan empat dimensi. Kalau meminjam definisinya Moira Cullen, dkv atau desain grafis adalah suatu disiplin hasil persenyawaan seni, teknologi dan ilmu sosial; yang vital bagi proses form-giving (pewujudan), way-finding (proses pemahaman) dan dalam meaning-making (penciptaan makna). Pengertian dkv semakin hari semakin berkembang tergantung perubahan yang terjadi pada siapa yang akan menerima pesan, kondisi lingkungan sosial dan budaya penerima pesan. Hal ini membuat pekerjaan merancang komunikasi visual tidak hanya menciptakan hiburan bagi mata, namun harus menyuguhkan sesuatu yang asosiatif, relevan dan edukatif dengan cara yang tidak biasa sehingga menghasilkan pesan pesan yang memorable. Masyarakat saat ini sebisa mungkin menghindar dari pesan-pesan yang tidak dibutuhkan seperti iklan (namun tampak mustahil), mau tak mau dihadapkan pada ribuan pesan , melihat kemudian memilah, membuang, sebagian kecil diingat sebagian besar dilupakan. Semua perancang pasti mengharapkan pesannya diingat, disimpan oleh audience dalam benaknya , meskipun sebenarnya secara fisik hasil rancangan desainer grafis bersifat ephemeral namun apa yang tertanam di pikiran audience lebih lama ketimbang daya tahan wujud fisik desain itu sendiri, koran bisa berganti tiap hari, majalah, tabloid dan situs terus mengup-date setiap saat, tidak ada yang abadi kecuali pesan yang kuat. Untuk membuat pesan yang kuat yang sesuai masanya, mau tak mau updating jadi perlu. Jika seorang perancang banyak membaca maka apa yang dirancangnya pasti pantas dibaca.

Dari berbagai alasan penyebab tidak membaca, seperti; ribet, bahasa Inggeris sih, EYD nya nggak ok, belum sempat, buku mahal, kebanyakan proyek dan banyak tugas menyebabkan (mahasiswa) desainer grafis tidak suka menulis, menulis juga bagi orang kreatif bisa berbagai macam, menggambar adalah menulis, membuat karikatur, merancang kemasan, merancang poster, merancang logo adalah menulis, membimbing dan memberi konsultasi pada mahasiswa juga menulis, namun kualitas tulisan akan bergantung pada seberapa dalam pembahasannya, kualitas desain akan bergantung pada seberapa dalam risetnya, seberapa tajam analisisnya, you are what you read dalam menghasilkan bahasa rupa memang terbukti.

Hal yang memprihatinkan dari arus informasi saat ini adalah berkembangnya seni klik, semuanya tinggal klik, copy, paste pindahkan ke Word, ganti font, ubah spasi, jadilah artikel hasil klik sana, drag sini. Tanpa perlu disimak lebih dalam, tambahkan sedikit kata-kata sendiri agar tidak berkesan plagiat lalu susun jadi beberapa halaman A4, jadilah paper, itulah yang sering saya hadapi ketika harus memeriksa tugas paper mahasiswa, belum lagi bantuan program penerjemah bahasa Inggeris ke bahasa Indonesia, bahasa Inggerispun (seolah) tak masalah, tinggal koreksi, ubah sedikit kalimat-kalimat ’thanks to technology!’ kalau sudah begini, ada tanggung jawab yang berbicara.

Kata Ferdnand Baudien, seorang typographer, menulis adalah seni mengawetkan pemikiran dan bahasa dalam bentuk tulisan. Dengan menulis, sebuah bahasa terpelihara.
Tulisan yang baik tentu saja berguna bagi orang lain yang membacanya, dengan begitu, sebuah pemikiran disepakati, dibantah, dibuat antithesisnya dan kemudian dikoreksi, dikembangkan dan bercabang. Memang, siapa lagi yang akan mengembangkan bidang dkv kalau bukan para perancang, mahasiswa dan dosen dkv, Jadi tak perlu resah lagi ketika teman-teman yang bukan desainer meloncati pagar ”menggarap desain grafis”, desainer sejati seharusnya lebih tahu hakikat merancang grafis, siapa pun tak membuat seseorang menjadi desainer yang buruk selama memiliki bekal pengetahuan dan selalu membuka mata telinga dan pemikiran terhadap informasi baru. Dengan membaca, kemampuan menulis, bicara, presentasi dan kematangan hasil rancangan akan berkembang dengan sendirinya, dengan membaca kemampuan menyaring dan memilah informasi akan tumbuh dan merangsang pemikiran baru because mind is something that other people can’t take it away from you. ( WI, 0208).

Referensi Buku, artikel, situs :
Bierut, Michael, Steven Heller, Looking Closer 4, Allworth press, 2002
Heller Steven, The Education of graphic designer, Allworth press, 2005
Soar, Matt, Theory and graphic designer
Newark, Quentin:Least designed and most read
Meggs, Phllip B; Text, Type and image
Mc.Coy, Catherine, Graphic design education
www.maxbruinsma.nl

selamat datang di blognawiwi.

bicarakan apa saja seputar desain, graphic design, buku, persahabatan, tempat liburan, apa saja deh, terima kasih sudah berkunjung:)

you can be rich, with no money to spend

you can do everything when you understand

open your eyes and open your mind

open your thought and don't stay behind.