Senin, 11 November 2013

cara terbaik menghadapi perubahan adalah menjadi bagian dari perubahan.

November 12, 2010
catatan ini tentang apa yang terjadi dalam bidang komunikasi,  perubahan yang revolusioner yaitu berpindahnya media  konvensional ke sosial media serta tumbuhnya strategi baru dalam kegiatan penyampaian pesan. Sebagai seorang yang menggeluti komunikasi visual, perubahan merupakan hal yang harus disadari, diamati dan disikapi. the rise of  PR and the fall of advertising yang saya baca dari tulisan Jack trout beberapa tahun lalu, kini mulai saya pahami seperti apa sebenarnya. ini catatan kecil dari serangkaian dua hari seminar pinasthika ke 11 di yogjakarta tahun 2010. Tentu saja sudah lebih banyak lagi perubahan yang terjadi.

Perubahan ini perlu disikapi agar lebih terbuka mata ini terhadap apa yang terjadi sekitar kita, agar semakin sadar dimana posisi desainer visual yang sebenarnya, di era masyarakat lebih percaya word of mouth dibanding iklan-iklan tv, radio dan majalah. lalu apa yang harus dilakukan agar kelak sebagai komunikator kita berhasil melakukan tugas menyampaikan pesan, mempersuasi dan menanam brand? ini adalah catatan dari apa yang saya simak dari uraian Berger linke dan iim Fahima Jachya. jadi beberapa mungkin tertinggal

here some facts :

menurut Iim Fahima Jachya: pada tahun 2010, ada 30 juta pengguna internet di indonesia, dan akan tumbuh menjadi 250 juta dalam bentuk internet mobile.
10 juta pengguna 3G dan 1 juta pengguna blackberry yang merupakan bagain dari 28 juta pengguna blackbery di dunia. ( sekarang bbm milik pengguna android juga)
Indonesia diprediksi akan menjadi mobile market terbesar ke 3, pengguna twitter di indonesia terbesar ketiga di dunia dan pertama di Asia.

Sebagai tambahan, data dari Ac Nielsen, ada 346.000.000 pembaca blog ( http://buzzmedia.com.my/article/social-media-impact-on-business-and-marketing) ditambah 300.000.000 pengguna facebook seluruh dunia  serta pengguna twitter yang naik sebanyak 1.382%, dan 20 jam video diupload lewat youtube setiap menit, 13.000.000 artikel diupload wikipedia. data diatas hanya sampai tahun 2009 saja , bayangkan berapa lagi kenaikan dari semua itu saat ini? ( tahun 2013 ini, 1 milyar 19 ribu lebih pengguna akun facebook, 800 ribu lebih dalam bentuk mobile internet)

Penggunaan sosial media  telah mengubah cara penyampaian pesan, twitter telah mengubah cara berpikir dalam berkomunikasi dan berbisnis. Conventional media seperti iklan tv dianggap sebagai slow and less efectiveness, namun tetap penting sebagai mata rantai sampainya sebuah pesan.

Tingginya pengguna mobile phone di Indonesia telah terbukti dengan sebanyak 80% lagu terjual dalam bentuk ringtone, begitu pula dengan munculnya berbagai games mobile yang dapat diakses dengan mudah. tapi dari besarnya jumlah pengguna internet mobile di Indonesia.

Dari meningkatnya penggunaan sosial media yang berbasis bahasa dan kepercayaan konsumen terhadap testimoni seseorang, karena referensi dari sosok terpercaya, pernyataan publik figure, seketika orang-orang dengan ikhlas mau bergerak, melakukan sesuatu, mengalami serta kemudian membaginya hanya karena sebuah penyataan verbal, Barangkali Pertanyaan-peranyaan ini yang bakal muncul:

dimana posisi desainer komunikasi visual?
lalu apa yang terjadi dengan iklan tv atau majalah ?
jadi hilang batas dong antara bidang komunikasi dan dkv serta marketing?
desain grafis kayaknya mati nih!
kesempatan apa saja yang bisa digali dari profesi dkv?
apa yang harus saya persiapkan untuk menghadapi perubahan ini?
Kalau kata-kata saat ini menjadi penting? lalu skill saya dibidang visual, art and design mau diapakan?

2012, 
Sekarang sih ga usah bingung menjawab pertanyaan diatas, ada buku yang bisa menjawabnya Brand Gardener karya Handoko Hendroyono, http://brandgardener.net/ silahkan cari bukunya dan baca sampai kepala berasap hangat terinspirasi sampai gatal otak.

Jumat, 08 November 2013

Dari Sebuah Tempat Bernama Gunung Bohong

Tempat ini benar-benar ada, meskipun namanya Gunung Bohong. Sebuah segitiga kecil dalam peta Bandung, sebuah titik kecil dalam peta Jawa Barat dan sudah tak tampak bila kamu membuka peta Indonesia. Aku adalah salah satu penduduknya yang sejak lahir tinggal disini. Di sebuah titik yang tak terlihat.

Sampai hari ini, aku malu sekali bila harus menyebutkan alamat rumahku, tapi kalau tidak aku sebutkan, pasti tukang becak tidak akan bisa mengantarkanku pulang. Dulu sewaktu SD, jika aku harus menyebutkan alamat lengkapku secara panjang lebar seperti ini, jalan Panembakan, Kampung Sukasari, Desa Padasuka yang mau ke Pondok Dustira setelah Warung Contong dekat jalan kereta api, maka tukang becak akan menjawab
” Oh Gunung Bohong, bilang dong dari tadi, kan beres” ” seribu aja” 


Tidak pernah ada yang tahu kenapa namanya Gunung Bohong, bahkan kakek-kakek tertuapun yang masih ada di kampungku pasti menggeleng-gelengkan kepalanya kalau ditanya kenapa kampung kami bernama Sukasari apalagi kalau ditanya asal-usul nama Gunung Bohong.

Aku merasakan betapa tidak enaknya orang mengaitkan nama tempat tinggal dengan sikap yang kita miliki atau perbuatan yang kita lakukan. Pernah sekali waktu aku bercerita pada temanku di sekolah tentang sebuah foto yang dibawa sepupuku dari Jakarta, Sepupuku seorang prajurit angkatan laut, Ia membawakan gambar yang tak pernah kulihat sebelumnya, gambar seekor ikan berkaki manusia yang terdampar di pinggir pantai,( yang baru aku tahu setelah kuliah kalau itu adalah foto hasil montage) ketika kuceritakan pada teman-temanku, mereka langsung menuduhku berbohong, memang pasti banyak yang tidak akan percaya ada ikan berkaki manusia tapi aku janjikan besok hari aku akan perlihatkan fotonya.

Sepulang sekolah aku pun langsung kerumah uwaku dan ternyata sepupuku sudah kembali ke Jakarta, begitu pula foto aneh yang tadinya mau aku pinjam.. Ah, terlambat pikirku. Besok aku harus menerima tertawaan teman-temanku besok dan benar saja, ” Tuh kan udah dibilang pasti bohong, mana ada ikan berkaki manusia, ada-ada saja kamu dasar orang Gunung Bohong, bohongnya segunung!”

Selanjutnya adalah hari-hari yang berat ketika aku harus menyampaikan sesuatu, teman-temanku selalu curiga kalau-kalau perkataanku bohong. Padahal aku bukan orang yang suka berbohong, kadang-kadang kita bicara apa adanya namun apa yang akan dibicarakan harus kita pikirkan akibatnya. Kalau tadi pagi aku bilang makan nasi goreng, pasti mudah sekali untuk dipercaya meskipun sebenarnya tadi pagi aku tidak sarapan, tapi mengatakan sesuatu seperti ikan berkaki manusia meskipun kita benar-benar melihat gambarnya, maka terlalu bersusah payah mengatakan bahwa itu benar dan jadi hal yang sia-sia.

Ada hal lain yang aku yakini bertahun-tahun bahwa itu benar adalah tentang ulat berteriak, nenekku pernah bercerita ketika ia masih sangat-sangat kecil, ia masuk ke hutan dan ia mendengar sebuah jeritan tinggi yang dikiranya suara monyet atau burung. Ternyata setelah didekati, suara itu berasal dari seekor ulat sebesar lengan yang sedang membuka mulutnya dan mengeluarkan suara melengking seakan berteriak. Aku sungguh terpukau dengan kisah itu meskipun disaat kuceritakan kembali pada temanku ia tertawa terbahak-bahak atau lebih tepatnya prihatin dan menyarankanku agar lebih cermat membaca ensiklopedi dan nonton Discovery Channel untuk memikirkan kembali tentang keberadaan ulat yang bersuara dan berteriak. Ia juga mengatakan bahwa nenekku pastinya seorang Ventriloquist yang hebat.

Sebuah kebohongan terkadang baru disadari setelah bertahun-tahun lamanya. Banyak sekali alasan dibalik kenapa seseorang berbohong. Aku adalah anak kecil yang sangat-sangat menjengkelkan, bagiku sendiri dan bagi orang lain, namun nenekku sayang padaku, karena kupikir, aku menerima cinta yang tidak kurang dari cinta yang diterima orang lain, terbukti ketika selama hampir tiga tahun aku tinggal bersama nenek, ia selalu peduli padaku. Karena aku sering bermain sendiri jauh hingga ke sungai yang tak pernah boleh aku sebrangi atau masuk ke tengah kebun karet yang jauh dan gelap. Terpaksa nenekku bercerita tentang ulat yang bersuara untuk membuatku takut dan tidak lagi main ke tempat yang jauh tanpa ditemani dan aku percaya karena nenekku yang bicara.

Gunung Bohong bagiku adalah tempat yang selalu aku rindukan, seburuk apapun kesan yang ditimbulkan dari namanya. Tidak jarang orang penasaran bertanya ”apakah itu artinya tidak ada gunung?”
” Tentu saja ada”
”Apa mungkin dulunya pernah menghilang?”
”Nggak tahu juga”
”Atau mungkin penduduknya tukang bohong ya?”. Pertanyaan ketiga tentunya paling berat untuk dijawab, meskipun perlu waktu lama untuk membuktikan bahwa banyak dari penduduk Gunung Bohong yang hidupnya berhasil karena kejujurannya.
Harus aku catat dengan huruf besar bahwa bohong bukan perbuatan yang baik karena bohong artinya tidak jujur, menutupi kebenaran dan tidak disukai.

Disadari atau tidak banyak sekali nama daerah yang terdengar tidak enak ditelinga, bahkan membuat warganya malu menyebut alamat rumahnya sama seperti aku karena takut dikaitkan dengan apa yang ada pada diriku. Bayangkanlah sebuah nama seperti ” Legok Hangseur yang dalam bahasa Indonesia artinya adalah sebuah daerah cekungan semacam lembah yang berbau pesing. Kampung kacepet yang artinya kampung terjepit, entah apanya yang terjepit. Satu lagi daerah yang aku tahu adalah Kandang Babi yang katanya dulu ketika Belanda masih menduduki Indonesia, Cimahi adalah pusat kemiliteran dan ada seorang pengusaha Cina yang mempunyai peternakan babi untuk memasok kebutuhan daging para tentara Belanda dan kaum Tionghoa, selanjutnya tempat ini diidentifikasi oleh orang yang akan menuju dan kembali dari daerah itu sebagai Kandang Babi, meskipun bekas-bekas kandang babi itu tak tampak sama sekali. Kandang Babi adalah daerah yang berdampingan dengan Gunung Bohong. Siapa yang mau mengatakan rumahnya di kandang babi? 


Cerita ini biasa saya sampaikan ketika akan kuliah tentang City Branding, terutama yang berkaitan dengan Penamaan / Naming.



(cuplikan dari sejuta jendela, wiwi isnaini, 2007)

Rabu, 06 November 2013

Jauh sebelum Luwak ditangkap dan dipaksa untuk makan kopi di kandang, ia adalah brand.

Luwak 'The doodling Brand book'


Suatu malam di sebuah kedai kopi ditengah gemerlap kota, seorang pelanggan pria setengah baya bersetelan rapi memesan secangkir kecil kopi termahal, 25 dollar, harga yg tinggi untuk secangkir kopi.


Menunggu...
Ia memutar pandangan ke sekeliling cafe, berbaur dengan uap dan  aroma pekat kopi, para barista sibuk melayani beberapa pelanggan lain yang juga memesan kopi yang sama.  hmm rupanya semua orang ingin mencicipi kopi yg beberapa saat kemudian hadir di hadapannya. Semerbak menyeruak...





Sejenak ia menghirup aroma pekat nikmat dari cangkir porselen ditangannya, pikirannya menerawang. 

Jauh di seberang lautan, disebuah ladang kopi di kegelapan malam, seekor binatang mirip kucing berbulu lebat, berbadan dan berekor panjang  dengan cermat memetik buah2 kopi yg matang, memakannya terus memetik dan memakannya hingga kopi2 paling matang yg ada di pohon yg ia naiki habis..tertidur.

Sementara malam-malam di cafe itu berulang cerita yg sama bertahun-tahun. Ribuan dollar mengalir dari saku para pelanggan ke pemilik kafe, ke pengolah biji, ke pemasok ke ekspotir dan para pemilik perkebunan kopi.

Hewan bernama luwak itu setiap malam mengendap, menyambangi kebun kopi dalam sunyi, memanjat pohon kopi yang buah matangnya paling melimpah. Ia yg secara naluriah adalah pemilih buah kopi terbaik', kenyang, Tertidur dan membuang kotorannya setiap menjelang fajar.

Kotorannya adalah sampah yg menjadi 'emas' yg diburu dunia.

Cerita berawal dari pertemuan tak sengaja pria bernama Marty pengunjung cafe de 'coffee fetish' di kebun dimana si luwak sedang asik tidur siang.

'Hmm,.so it is where the great taste coffee came from' gumamnya sambil menghirup segarnya udara kebun kopi, sementara si luwak membuka, memicingkan mata , mundur dan menatap waspada pada sosok asing (pada dasarnya ia menghindar dari manusia, jadi siapapun adalah orang asing baginya)

Tapi karena sosok asing itu tak tampak berbahaya baginya, ia lebih santai sekarang.

'Here' comes the great brand's owner'
matanya tertuju pada sang luwak.
Luwak tak peduli dgn ucapan marty karena memang tak mengerti.

 Marty pun menerawang sejenak setelah memerhatikan hewan abu-abu kecoklatan bertutul dan berloreng di beberapa bagian bulunya..ia ternsenyum karena tahu persis pemilik nama besar berbulu itu tak tahu kalau dirinya pemilik kotoran fenomenal dengan nama besar bagi industri kopi. Ia teringat bagaimana coca cola dengan reputasinya tak pernah dirasakan raupan trilyunan dollar oleh peramu dan pemilik awalnya. Ia pun ingat bagaimana coco chanel yang tak mencicipi hasil kemashyuran parfum chanel no.5 nya..seperti si luwak dihadapannya.
Luwak mulai santai, ambil posisi waspada agak jauh dari Marty.


'Apakah Anda yang punya pohon-pohon kopi ini?' luwak bertanya sambil sedikit menjauh cemas.

'Bukan, aku Marty, orang mengenalku sebagai penulis buku ttg brand,  'the Brand Gap' buku yg membantu banyak orang terutama dosen untuk menjelaskan tentang brand pada para mahasiswanya.








Lalu sang luwakpun mendekat sedikit demi sedikit, bertanya  ' memangnya apa itu b..brand?

Marty Neumeier berkata pada sang luwak 'brand is a gut feeling''a short cut when people have too much information but have too little time' 



'Aku ga ngerti'

Brand itu perasaan, emosi seseorang terhadap kamu, intuisi yg jadi jalan pintas ketika orang terlalu banyak disuguhi informasi tapi waktu yg dimiliki sangat sedikit, maka ketika kamu berbeda dengan yg lain maka kamu akan mudah dikenali. Kalau perbedaanmu itu bermanfaat bagi mereka maka kamu akan selalu diingat. Itulah yg terjadi, mereka mengenalmu dengan baik dan membicarakanmu, membicarakan kotoran yg kamu hasilkan, kotoran yg mengandung kopi ternikmat dan tinggi nilainya'

Luwak : "bagaimana 'e e' sy mahal?"  

Marty  :"people has brand recognition about your litter as high quality coffee"

Ha ha luwak tertawa " berarti gara2 apa yg saya lakukan dan saya makan dong? 


Marty : 'rite buddy'

"brand is about reputation about what you do, how good you do and how do you make a differentiation"
Hmm, luwak berpikir keras dan bertanya lagi  'tapi saya ga sengaja loh bikin ee saya jadi kopi enak, rutin sih saya lakukan setiap pagi'

Marty menjawab kali ini sudah memakai subtitle 

" Justru karena kamu rutin lakukan itu dgn baik, maka orang jadi ingat apa yang kamu hasilkan, karena kamu disiplin.

Marty bilang lagi 'bisa jadi kamu tidak menyadarinya, yang kamu tahu adalah bagaimana bisa makan kopi terbaik, mengeluarkannya dan melakukannya tanpa dibuat-buat, tapi orang menyadarinya sebab brand bukan dibuat olehmu atau  dibuat di pabrik tapi dibuat di pikiran mereka'

Luwak mulai mengerti 'lalu apa yg terjadi kalau aku ga makan kopi lagi ?'

Marty tertawa : 'ee mu pasti bukan kopi, orang akan meninggalkanmu dan 'kamu' hilang dari ingatan mereka. Ketika kamu berpikir untuk makan kopi lagi dan ee kopi lagi, kopi yg sama yg akan dihasilkan, tapi akan sulit bagi kamu untuk memperoleh kepercayaan mereka.
Luwak: 'hmm gitu ya? Jadi aku harus makan dan ee kopi terus? Jadi ee ku lebih berharga dari diriku sendiri?

Marty: ' tidak begitu juga, kamu sebagai produsen dan ee kopimu sebagai produk adalah satu' ee kopi akan berbeda jika bukan darimu'

Luwak: 'kalau aku ganti nama jadi luwik, luwuk, luwok, gimana? Luwak mulai pinter nih soal brand

Marty: "ee eh kopimu bisa jadi tetep enak, tapi orang akan butuh waktu lama untuk mengetahui kalau nama baru itu sama baiknya dengan nama terdahulu

Luwak: " ohoho..jadi aku segitu bekennya ya"

Marty:  "begitulah, namamu adalah identitas, brand equity, kekayaan yang melebihi apapun di dunia ini"

'Ngomong2 apakah teman-temanmu tahu kalau mereka meminum kopi yg berasal dari hewan tak dikenal sepertiku?

'Tentu saja mereka tahu dan mereka malah kagum sekali, mereka merasa meminum sesuatu yg mengandung mitos kopi ternikmat dari ee seekor hewan malam misterius yang tak mau bertemu manusia'

'Manusia benar2 aneh ya' aku dan ee ku jadi bahan pembicaraan tanpa aku sadar' terus gimana kalo monyet meminta agar bisa pake namaku?"

Marty "kamu boleh berikan bahkan menjual kopimu, jual ee mu jual pohon kopimu, tapi mereka harus membayar sangat mahal untuk nama 'luwak' mu.

Luwak memikirkan tentang siapa akhirnya ia sadar ketika  marty berkata ' brand is not what u say it is but what they say it is'

Apakah mereka akan punya perasaan yg sama terhadap diriku hingga waktu yg lama?
'Tentu kalau kamu dapat dipercaya bahwa kamu hanya yang terbaik dan tak ada yg bisa menggantikanmu'

'Apa untungnya bagiku?'
Tidak akan rugi bila kamu dipercaya, apapun yg kamu lakukan hasilnya selalu membuat mereka makin cinta dan peduli sama kamu. Dengan kepercayaan, kamu leluasa melakukan hal baik lainnya.

Seperti?
Well seperti baiknya kopi yg kamu hasilkan, maka akan terpikir baik juga kalau suatu saat ada yg membuat kopi luwak susu, kopi luwak capucino, atau permen kopi luwak. Apapun inovasi yang terjadi, itu akan selalu dinanti.

Jadi harus selalu bikin hal-hal baru begitu?
Ya kurang lebih begitu, sesuatu yang statis cenderung dilupakan jadi biar sedikit, kebaruan harus selalu ada.

'He he..aku saja tak tahu kalau kopi dari ee ku begitu diburu dan aku tak tahu bagaimana membuat hal-hal baru'

'Kalau begitu, jadilah dirimu dengan disiplinmu, fokus saja pada pekerjaannmu. Memilih dan memakan kopi terbaik dan biarkan yang lain yg mengurus sisanya'

Luwak lega tak harus melakukan apapun yang tak ia mengerti bahkan tak peduli, 'Umm, Anda kenal dengan pemilik kebun ini?

Marty : He he, tidak, kenapa? Tenang saja ia beroleh banyak keuntungan kok dengan apa yang kamu lakukan di kebunnya.

Luwak : "Oh..syukurlah. Lalu bagaimana kalau monyet juga makan dan ee kopi?"

'Ha ha sudahlah. Saatnya aku pergi'  Marti membuka matanya, iapun beranjak dan keluar menuju pintu kafe yg sudah mulai sepi.

Zoom out.....................................Secangkir kecil kosong di meja kafe.

Sabtu, 28 September 2013

senangnya bisa mengingat kembali blog ini dan terutama passwordnya.blog ini terbengkalai 4 tahun, semoga berlebih energi untuk mengisi kembali.