catatan
ini tentang apa yang terjadi dalam bidang komunikasi, perubahan yang
revolusioner yaitu berpindahnya media konvensional ke sosial media
serta tumbuhnya strategi baru dalam kegiatan penyampaian pesan.
Sebagai seorang yang menggeluti komunikasi visual, perubahan merupakan
hal yang harus disadari, diamati dan disikapi. the rise of PR and the
fall of advertising yang saya baca dari tulisan Jack trout beberapa
tahun lalu, kini mulai saya pahami seperti apa sebenarnya. ini catatan
kecil dari serangkaian dua hari seminar pinasthika ke 11 di yogjakarta tahun 2010. Tentu saja sudah lebih banyak lagi perubahan yang terjadi.
Perubahan ini perlu disikapi
agar lebih terbuka mata ini terhadap apa yang terjadi sekitar kita, agar
semakin sadar dimana posisi desainer visual yang sebenarnya, di
era masyarakat lebih percaya word of mouth dibanding iklan-iklan tv,
radio dan majalah. lalu apa yang harus dilakukan agar kelak sebagai
komunikator kita berhasil melakukan tugas menyampaikan pesan,
mempersuasi dan menanam brand? ini adalah catatan dari apa yang saya simak dari uraian Berger linke dan iim Fahima Jachya. jadi beberapa mungkin tertinggal
here some facts :
menurut Iim Fahima Jachya: pada tahun 2010, ada 30 juta pengguna internet di indonesia, dan akan
tumbuh menjadi 250 juta dalam bentuk internet mobile. 10 juta pengguna 3G dan 1 juta pengguna blackberry yang merupakan bagain dari 28 juta pengguna blackbery di dunia. ( sekarang bbm milik pengguna android juga) Indonesia
diprediksi akan menjadi mobile market terbesar ke 3, pengguna twitter
di indonesia terbesar ketiga di dunia dan pertama di Asia.
Sebagai tambahan, data dari Ac Nielsen, ada 346.000.000 pembaca blog ( http://buzzmedia.com.my/article/social-media-impact-on-business-and-marketing)
ditambah 300.000.000 pengguna facebook seluruh dunia serta pengguna
twitter yang naik sebanyak 1.382%, dan 20 jam video diupload lewat
youtube setiap menit, 13.000.000 artikel diupload wikipedia. data diatas
hanya sampai tahun 2009 saja , bayangkan berapa lagi kenaikan dari
semua itu saat ini? ( tahun 2013 ini, 1 milyar 19 ribu lebih pengguna akun facebook, 800 ribu lebih dalam bentuk mobile internet)
Penggunaan sosial media telah
mengubah cara penyampaian pesan, twitter telah mengubah cara berpikir
dalam berkomunikasi dan berbisnis. Conventional media seperti iklan tv
dianggap sebagai slow and less efectiveness, namun tetap penting sebagai
mata rantai sampainya sebuah pesan.
Tingginya pengguna
mobile phone di Indonesia telah terbukti dengan sebanyak 80% lagu
terjual dalam bentuk ringtone, begitu pula dengan munculnya berbagai
games mobile yang dapat diakses dengan mudah. tapi dari besarnya jumlah
pengguna internet mobile di Indonesia.
Dari meningkatnya
penggunaan sosial media yang berbasis bahasa dan kepercayaan konsumen
terhadap testimoni seseorang, karena referensi dari sosok terpercaya,
pernyataan publik figure, seketika orang-orang dengan ikhlas mau bergerak,
melakukan sesuatu, mengalami serta kemudian membaginya hanya karena
sebuah penyataan verbal, Barangkali Pertanyaan-peranyaan ini yang bakal
muncul:
dimana posisi desainer komunikasi visual? lalu apa yang terjadi dengan iklan tv atau majalah ? jadi hilang batas dong antara bidang komunikasi dan dkv serta marketing? desain grafis kayaknya mati nih! kesempatan apa saja yang bisa digali dari profesi dkv? apa yang harus saya persiapkan untuk menghadapi perubahan ini? Kalau kata-kata saat ini menjadi penting? lalu skill saya dibidang visual, art and design mau diapakan? 2012, Sekarang sih ga usah bingung menjawab pertanyaan diatas, ada buku yang bisa menjawabnya Brand Gardener karya Handoko Hendroyono, http://brandgardener.net/ silahkan cari bukunya dan baca sampai kepala berasap hangat terinspirasi sampai gatal otak.
Tempat ini benar-benar ada, meskipun namanya Gunung Bohong. Sebuah
segitiga kecil dalam peta Bandung, sebuah titik kecil dalam peta Jawa
Barat dan sudah tak tampak bila kamu membuka peta Indonesia. Aku adalah salah satu penduduknya yang sejak lahir
tinggal disini. Di sebuah titik yang tak terlihat.
Sampai hari
ini, aku malu sekali bila harus menyebutkan alamat rumahku, tapi kalau
tidak aku sebutkan, pasti tukang becak tidak akan bisa mengantarkanku
pulang. Dulu sewaktu SD, jika aku harus menyebutkan alamat lengkapku secara panjang lebar
seperti ini, jalan Panembakan, Kampung Sukasari, Desa Padasuka yang mau
ke Pondok Dustira setelah Warung Contong dekat jalan kereta api, maka
tukang becak akan menjawab ” Oh Gunung Bohong, bilang dong dari tadi, kan beres” ” seribu aja” Tidak
pernah ada yang tahu kenapa namanya Gunung Bohong, bahkan kakek-kakek
tertuapun yang masih ada di kampungku pasti menggeleng-gelengkan
kepalanya kalau ditanya kenapa kampung kami bernama Sukasari apalagi
kalau ditanya asal-usul nama Gunung Bohong.
Aku merasakan betapa
tidak enaknya orang mengaitkan nama tempat tinggal dengan sikap yang
kita miliki atau perbuatan yang kita lakukan. Pernah sekali waktu aku
bercerita pada temanku di sekolah tentang sebuah foto yang dibawa
sepupuku dari Jakarta, Sepupuku seorang prajurit angkatan laut, Ia
membawakan gambar yang tak pernah kulihat sebelumnya, gambar seekor ikan
berkaki manusia yang terdampar di pinggir pantai,( yang baru aku tahu setelah kuliah kalau itu adalah foto hasil montage) ketika kuceritakan
pada teman-temanku, mereka langsung menuduhku berbohong, memang pasti
banyak yang tidak akan percaya ada ikan berkaki manusia tapi aku
janjikan besok hari aku akan perlihatkan fotonya.
Sepulang
sekolah aku pun langsung kerumah uwaku dan ternyata sepupuku sudah
kembali ke Jakarta, begitu pula foto aneh yang tadinya mau aku pinjam..
Ah, terlambat pikirku. Besok aku harus menerima tertawaan teman-temanku
besok dan benar saja, ” Tuh kan udah dibilang pasti bohong, mana ada
ikan berkaki manusia, ada-ada saja kamu dasar orang Gunung Bohong,
bohongnya segunung!”
Selanjutnya adalah hari-hari yang berat
ketika aku harus menyampaikan sesuatu, teman-temanku selalu curiga
kalau-kalau perkataanku bohong. Padahal aku bukan orang yang suka
berbohong, kadang-kadang kita bicara apa adanya namun apa yang akan
dibicarakan harus kita pikirkan akibatnya. Kalau tadi pagi aku bilang
makan nasi goreng, pasti mudah sekali untuk dipercaya meskipun
sebenarnya tadi pagi aku tidak sarapan, tapi mengatakan sesuatu seperti
ikan berkaki manusia meskipun kita benar-benar melihat gambarnya, maka
terlalu bersusah payah mengatakan bahwa itu benar dan jadi hal yang
sia-sia.
Ada hal lain yang aku yakini bertahun-tahun bahwa itu
benar adalah tentang ulat berteriak, nenekku pernah bercerita ketika ia
masih sangat-sangat kecil, ia masuk ke hutan dan ia mendengar sebuah
jeritan tinggi yang dikiranya suara monyet atau burung. Ternyata setelah
didekati, suara itu berasal dari seekor ulat sebesar lengan yang
sedang membuka mulutnya dan mengeluarkan suara melengking seakan
berteriak. Aku sungguh terpukau dengan kisah itu meskipun disaat
kuceritakan kembali pada temanku ia tertawa terbahak-bahak atau lebih
tepatnya prihatin dan menyarankanku agar lebih cermat membaca
ensiklopedi dan nonton Discovery Channel untuk memikirkan kembali
tentang keberadaan ulat yang bersuara dan berteriak. Ia juga mengatakan
bahwa nenekku pastinya seorang Ventriloquist yang hebat.
Sebuah
kebohongan terkadang baru disadari setelah bertahun-tahun lamanya.
Banyak sekali alasan dibalik kenapa seseorang berbohong. Aku adalah anak
kecil yang sangat-sangat menjengkelkan, bagiku sendiri dan bagi orang
lain, namun nenekku sayang padaku, karena kupikir, aku menerima cinta
yang tidak kurang dari cinta yang diterima orang lain, terbukti ketika
selama hampir tiga tahun aku tinggal bersama nenek, ia selalu peduli
padaku. Karena aku sering bermain sendiri jauh hingga ke sungai yang tak
pernah boleh aku sebrangi atau masuk ke tengah kebun karet yang jauh
dan gelap. Terpaksa nenekku bercerita tentang ulat yang bersuara untuk
membuatku takut dan tidak lagi main ke tempat yang jauh tanpa ditemani
dan aku percaya karena nenekku yang bicara.
Gunung Bohong bagiku
adalah tempat yang selalu aku rindukan, seburuk apapun kesan yang
ditimbulkan dari namanya. Tidak jarang orang penasaran bertanya ”apakah
itu artinya tidak ada gunung?” ” Tentu saja ada” ”Apa mungkin dulunya pernah menghilang?” ”Nggak tahu juga” ”Atau
mungkin penduduknya tukang bohong ya?”. Pertanyaan ketiga tentunya
paling berat untuk dijawab, meskipun perlu waktu lama untuk membuktikan
bahwa banyak dari penduduk Gunung Bohong yang hidupnya berhasil karena
kejujurannya. Harus aku catat dengan huruf besar bahwa bohong bukan
perbuatan yang baik karena bohong artinya tidak jujur, menutupi
kebenaran dan tidak disukai.
Disadari atau tidak banyak sekali
nama daerah yang terdengar tidak enak ditelinga, bahkan membuat warganya
malu menyebut alamat rumahnya sama seperti aku karena takut dikaitkan
dengan apa yang ada pada diriku. Bayangkanlah sebuah nama seperti ”
Legok Hangseur yang dalam bahasa Indonesia artinya adalah sebuah daerah
cekungan semacam lembah yang berbau pesing. Kampung kacepet yang artinya
kampung terjepit, entah apanya yang terjepit. Satu lagi daerah yang aku
tahu adalah Kandang Babi yang katanya dulu ketika Belanda masih
menduduki Indonesia, Cimahi adalah pusat kemiliteran dan ada seorang
pengusaha Cina yang mempunyai peternakan babi untuk memasok kebutuhan
daging para tentara Belanda dan kaum Tionghoa, selanjutnya tempat ini
diidentifikasi oleh orang yang akan menuju dan kembali dari daerah itu
sebagai Kandang Babi, meskipun bekas-bekas kandang babi itu tak tampak
sama sekali. Kandang Babi adalah daerah yang berdampingan dengan Gunung
Bohong. Siapa yang mau mengatakan rumahnya di kandang babi?
Cerita ini biasa saya sampaikan ketika akan kuliah tentang City Branding, terutama yang berkaitan dengan Penamaan / Naming. (cuplikan dari sejuta jendela, wiwi isnaini, 2007)
Suatu malam di sebuah kedai
kopi ditengah gemerlap kota, seorang pelanggan pria setengah baya
bersetelan rapi memesan secangkir kecil kopi termahal, 25 dollar, harga
yg tinggi untuk secangkir kopi.
Menunggu... Ia memutar pandangan ke
sekeliling cafe, berbaur dengan uap dan aroma pekat kopi, para barista
sibuk melayani beberapa pelanggan lain yang juga memesan kopi yang sama. hmm rupanya semua orang ingin mencicipi kopi yg beberapa saat kemudian hadir di hadapannya. Semerbak menyeruak...
Sejenak ia menghirup aroma pekat nikmat dari cangkir porselen ditangannya, pikirannya menerawang.
Jauh di seberang lautan, disebuah ladang kopi di kegelapan malam, seekor
binatang mirip kucing berbulu lebat, berbadan dan berekor panjang
dengan cermat memetik buah2 kopi yg matang, memakannya terus memetik dan
memakannya hingga kopi2 paling matang yg ada di pohon yg ia naiki
habis..tertidur.
Sementara malam-malam di cafe itu berulang
cerita yg sama bertahun-tahun. Ribuan dollar mengalir dari saku para
pelanggan ke pemilik kafe, ke pengolah biji, ke pemasok ke ekspotir dan
para pemilik perkebunan kopi.
Hewan bernama luwak itu setiap
malam mengendap, menyambangi kebun kopi dalam sunyi, memanjat pohon kopi
yang buah matangnya paling melimpah. Ia yg secara naluriah adalah
pemilih buah kopi terbaik', kenyang, Tertidur dan membuang kotorannya
setiap menjelang fajar.
Kotorannya adalah sampah yg menjadi 'emas' yg diburu dunia.
Cerita
berawal dari pertemuan tak sengaja pria bernama Marty pengunjung cafe
de 'coffee fetish' di kebun dimana si luwak sedang asik tidur siang.
'Hmm,.so
it is where the great taste coffee came from' gumamnya sambil menghirup
segarnya udara kebun kopi, sementara si luwak membuka, memicingkan mata
, mundur dan menatap waspada pada sosok asing (pada dasarnya ia
menghindar dari manusia, jadi siapapun adalah orang asing baginya)
Tapi karena sosok asing itu tak tampak berbahaya baginya, ia lebih santai sekarang. 'Here' comes the great brand's owner' matanya tertuju pada sang luwak. Luwak tak peduli dgn ucapan marty karena memang tak mengerti. Marty
pun menerawang sejenak setelah memerhatikan hewan abu-abu kecoklatan
bertutul dan berloreng di beberapa bagian bulunya..ia ternsenyum karena
tahu persis pemilik nama besar berbulu itu tak tahu kalau dirinya
pemilik kotoran fenomenal dengan nama besar bagi industri kopi. Ia
teringat bagaimana coca cola dengan reputasinya tak pernah dirasakan
raupan trilyunan dollar oleh peramu dan pemilik awalnya. Ia pun ingat
bagaimana coco chanel yang tak mencicipi hasil kemashyuran parfum chanel
no.5 nya..seperti si luwak dihadapannya. Luwak mulai santai, ambil posisi waspada agak jauh dari Marty.
'Apakah Anda yang punya pohon-pohon kopi ini?' luwak bertanya sambil sedikit menjauh cemas.
'Bukan,
aku Marty, orang mengenalku sebagai penulis buku ttg brand, 'the Brand Gap' buku yg membantu banyak orang terutama dosen untuk menjelaskan
tentang brand pada para mahasiswanya.
Lalu sang luwakpun mendekat sedikit demi sedikit, bertanya ' memangnya apa itu b..brand?
Marty Neumeier berkata pada sang luwak 'brand is a gut feeling''a short cut
when people have too much information but have too little time' 'Aku ga ngerti'
Brand
itu perasaan, emosi seseorang terhadap kamu, intuisi yg jadi jalan
pintas ketika orang terlalu banyak disuguhi informasi tapi waktu yg
dimiliki sangat sedikit, maka ketika kamu berbeda dengan yg lain maka
kamu akan mudah dikenali. Kalau perbedaanmu itu bermanfaat bagi mereka
maka kamu akan selalu diingat. Itulah yg terjadi, mereka mengenalmu
dengan baik dan membicarakanmu, membicarakan kotoran yg kamu hasilkan,
kotoran yg mengandung kopi ternikmat dan tinggi nilainya'
Luwak : "bagaimana 'e e' sy mahal?" Marty :"people has brand recognition about your litter as high quality coffee"
Ha ha luwak tertawa " berarti gara2 apa yg saya lakukan dan saya makan dong? Marty : 'rite buddy' " "brand is about reputation about what you do, how good you do and how do you make a differentiation" Hmm,
luwak berpikir keras dan bertanya lagi 'tapi saya ga sengaja loh bikin
ee saya jadi kopi enak, rutin sih saya lakukan setiap pagi'
Marty
menjawab kali ini sudah memakai subtitle " Justru karena kamu rutin lakukan
itu dgn baik, maka orang jadi ingat apa yang kamu hasilkan, karena kamu
disiplin.
Marty bilang lagi 'bisa jadi kamu tidak menyadarinya,
yang kamu tahu adalah bagaimana bisa makan kopi terbaik, mengeluarkannya
dan melakukannya tanpa dibuat-buat, tapi orang menyadarinya sebab brand
bukan dibuat olehmu atau dibuat di pabrik tapi dibuat di pikiran
mereka'
Luwak mulai mengerti 'lalu apa yg terjadi kalau aku ga makan kopi lagi ?'
Marty
tertawa : 'ee mu pasti bukan kopi, orang akan meninggalkanmu dan 'kamu'
hilang dari ingatan mereka. Ketika kamu berpikir untuk makan kopi lagi
dan ee kopi lagi, kopi yg sama yg akan dihasilkan, tapi akan sulit bagi
kamu untuk memperoleh kepercayaan mereka. Luwak: 'hmm gitu ya? Jadi aku harus makan dan ee kopi terus? Jadi ee ku lebih berharga dari diriku sendiri?
Marty: '
tidak begitu juga, kamu sebagai produsen dan ee kopimu sebagai produk
adalah satu' ee kopi akan berbeda jika bukan darimu'
Luwak: 'kalau aku ganti nama jadi luwik, luwuk, luwok, gimana? Luwak mulai pinter nih soal brand
Marty:
"eeeh kopimu bisa jadi tetep enak, tapi orang akan butuh waktu lama untuk
mengetahui kalau nama baru itu sama baiknya dengan nama terdahulu
Luwak: " ohoho..jadi aku segitu bekennya ya"
Marty: "begitulah, namamu adalah identitas, brand equity, kekayaan yang melebihi apapun di dunia ini"
'Ngomong2 apakah teman-temanmu tahu kalau mereka meminum kopi yg berasal dari hewan tak dikenal sepertiku?
'Tentu
saja mereka tahu dan mereka malah kagum sekali, mereka merasa meminum
sesuatu yg mengandung mitos kopi ternikmat dari ee seekor hewan malam
misterius yang tak mau bertemu manusia'
'Manusia benar2 aneh ya'
aku dan ee ku jadi bahan pembicaraan tanpa aku sadar' terus gimana kalo
monyet meminta agar bisa pake namaku?"
Marty "kamu boleh berikan bahkan menjual kopimu, jual ee mu jual pohon kopimu, tapi mereka harus membayar sangat mahal untuk nama 'luwak' mu.
Luwak memikirkan tentang siapa akhirnya ia sadar ketika marty berkata ' brand is not what u say it is but what they say it is'
Apakah mereka akan punya perasaan yg sama terhadap diriku hingga waktu yg lama? 'Tentu kalau kamu dapat dipercaya bahwa kamu hanya yang terbaik dan tak ada yg bisa menggantikanmu'
'Apa untungnya bagiku?' Tidak
akan rugi bila kamu dipercaya, apapun yg kamu lakukan hasilnya selalu
membuat mereka makin cinta dan peduli sama kamu. Dengan kepercayaan,
kamu leluasa melakukan hal baik lainnya.
Seperti? Well seperti
baiknya kopi yg kamu hasilkan, maka akan terpikir baik juga kalau suatu
saat ada yg membuat kopi luwak susu, kopi luwak capucino, atau permen
kopi luwak. Apapun inovasi yang terjadi, itu akan selalu dinanti.
Jadi harus selalu bikin hal-hal baru begitu? Ya kurang lebih begitu, sesuatu yang statis cenderung dilupakan jadi biar sedikit, kebaruan harus selalu ada.
'He he..aku saja tak tahu kalau kopi dari ee ku begitu diburu dan aku tak tahu bagaimana membuat hal-hal baru'
'Kalau
begitu, jadilah dirimu dengan disiplinmu, fokus saja pada pekerjaannmu.
Memilih dan memakan kopi terbaik dan biarkan yang lain yg mengurus sisanya'
Luwak lega tak harus melakukan apapun yang tak ia mengerti bahkan tak peduli, 'Umm, Anda kenal dengan pemilik kebun ini?
Marty : He he, tidak, kenapa? Tenang saja ia beroleh banyak keuntungan kok dengan apa yang kamu lakukan di kebunnya.
Luwak : "Oh..syukurlah. Lalu bagaimana kalau monyet juga makan dan ee kopi?"
'Ha ha sudahlah. Saatnya aku pergi' Marti membuka matanya, iapun beranjak dan keluar menuju pintu kafe yg sudah mulai sepi.
Zoom out.....................................Secangkir kecil kosong di meja kafe.
Sabtu, 28 September 2013
senangnya bisa mengingat kembali blog ini dan terutama passwordnya.blog ini terbengkalai 4 tahun, semoga berlebih energi untuk mengisi kembali.
Keseharian manusia tidak pernah terlepas dari desain grafis, dari bangun pagi hingga malam hari , dari urusan bungkus permen, surat kabar, majalah,peta, rambu hingga Corporate identity yang bernilai ratusan juta bahkan milyaran rupiah, Namun menjadi sesuatu yang ironi ketika desain grafis masih dianggap sebagai sebuah praktek mendekorasi, indah-indahan dan didefinisikan semata sebagai penataan teks dan gambar (the new shorter Oxford dictionary, Barnard, 2005) seperti yang banyak dipraktekkan saat ini oleh mereka yang kebetulan bisa menggambar dan menguasai graphic software.
Ketika desain grafis dihubungkan dengan iklan, maka tuduhan berikutnya adalah desain grafis bertanggung jawab dengan meningkatnya konsumerisme masyarakat. Hanya sebagian kecil masyarakat yang menyadari bahwa desain grafis pun berperan dalam membuat hidup lebih nyaman dan lebih berkualitas melalui penataan dan penyederhanaan informasi yang tadinya rumit sehingga mudah dipahami.
Tampaknya kita perlu mengkaji lagi untuk menempatkan desain grafis pada makna dan hakikat yang sesungguhnya melalui informasi yang edukatif, sesuai dengan salah satu fungsi desain grafis sebagai kegiatan memberi informasi (to inform) maka marilah melihat apa sebenarnya desain grafis dan berkenalan dengan desain grafis informasi, barangkali ada yang berminat untuk mendalaminya.
Perkembangan definisi desain grafis
Fungsi dasar desain grafis adalah to inform, to identify dan to presentation. (Hollies, 1994). Desain grafis yang beribu seni dan berayah bahasa didefinisikan oleh banyak pakar dan pelaku desain komunikasi visual sesuai dengan perkembangan yang terjadi pada suatu masa. Ketika masyarakat masih belum diserbu informasi seperti hari ini, desain grafis masih dimaknai sebagai penataan/pembuatan pesan pesan visual, kegiatan membuat dan memilih, menata tanda-tanda diatas sebuah permukaan untuk menyampaikan gagasan/idea. Berbeda dengan seniman, seorang desainer grafis bekerja berdasarkan pesanan dan perancang grafis harus merencanakan bagaimana pesannya direproduksi secara mekanis untuk tujuan komunikasi massa.
Disaat teknologi multimedia dan informasi networking menggejala maka definisi desain grafis dikaitkan dengan teknologi, pengetahuan, kemasyarakatan. Tugas perancangpun semakin sulit karena harus menghasilkan gagasan kreatif dengan perupaan pesan yang kuat, komunikatif, menarik dan memorable.
Terjadinya gejala homogenisasi, visual culture menipisnya akar-akar budaya lokal menggiring pada definisi desain grafis yang dikaitkan dengan kebudayaan; desain grafis adalah bentuk dari budaya rupa, bentuk dari kebudayaan.( Jobling& Crowley, 1996), desain grafis adalah bagian dari kebudayaan, turut membentuk kebudayaan dan berasal dari kebudayaan ( Phillip.B.Meggs). definisi ini tentunya menyiratkan bahwa seorang desainer harus memahami budaya, kebiasaan, pola pikir dan pola laku masyarakat yang akan dituju dengan pesan-pesannya. Maka tugas yang berat sekaligus mulia ketika seorang desainer grafis disebut juga sebagai agen kebudayaan yang mampu menjembatani masyarakat dengan sebuah gagasan, membentuk pola pikir dan mengarahkan sebuah tindakan serta mengambil keputusan. Dalam arti positif, desainer grafis menjadi agen informasi yang mengubah sebuah keadaan masyarakat dari tidak tahu menjadi tahu, dari yang tadinya tidak mengerti menjadi paham.
Desain Grafis Informasi, peluang dan tanggung jawab
Saat ini desain informasi menjadi kata-kata yang seringkita dengar, namun banyak perbedaan pandangan dan penamaan untuk perancangan informasi ini. Dalam bidang surat kabar dan majalah, desain informasi disebut sebagai grafis informasi, dalam bidang bisnis disebut grafik presentasi dan iptek disebut scientific visualization. Dalam bidang komputer kerap disebut interface design, dan dibidang arsitektur yang beririsan dengan desain grafis, desain informasi berarti signage dan wayfinding (Jacobson, 1999)
Masih sedikit lulusan desain grafis yang menggeluti desain grafis informasi sebagai spesialisasinya, iklan dan multimedia masih menyedot perhatian lebih banyak. Padahal kalau maumencoba, penerbitan, lembaga pemerintahan, bidang industri, lalu lintas dan tempat-tempat wisata umum adalah lingkungan yang perlu penataan dan perencanaan desain informasi yang lebih berpihak pada kepentingan pengguna.
Desain grafis telah mengubah cara penyampaian informasi yang tadinya hanya dihadirkan untuk kepentingan presisi dan kejelasan saja menjadi menghadirkan informasi dengan kualitasgaya visual yang beragam dan terbukti dapat mengkomunikasikan informasi secara benar dan menyenangkan mata. Majalah dan surat kabar telah membuktikan dengan menyajikan dan mempopulerkan desain informasi, melalui infografik, Infografik adalah istilah untuk serangkaian gambar, simbol , ikon dan teks pendek yang bertujuan mengkomunikasikan suatu peristiwa yang terjadi ,biasanya terdiri atas pelaku, tempat, rangkaian waktu berbeda berikut hal-hal yang terjadi secara kronologis. Melalui infografik, pembaca bisa menyimak secara terperinci, proses dan situasi sebuah kejadian dan data-data yang ditampilkan dengan memanfaatkan persepsi visual, Nigel Holmes seorang art director di majalah TIME adalah guru dan pelopor bidang perancangan informasi, hasil kerjanya berdampak pada bagaimana orang membaca dan menggunakan informasi.
Kejenuhan terhadap informasi saat ini telah membentuk masyarakat menjadi pemilih terhadap apa yang ingin dilihat, didengar dan dibaca. Ketika pesan-pesan visual menjadi serangan sehari-hari, pesan menjadi sangat sulit diingat. Namun diantara kejenuhan tersebut, masyarakat masih memerlukan desain grafis dan penataan informasi yang membantu memudahkan dan memfasilitasi kegiatan sehari-hari seperti buku-buku yang nyaman dibaca, situs yang navigasinya user friendly, manual instructionbook yang mudah dimengerti, packaging yang informatif, rambu-rambu dan petunjuk arah dan peta lokasi . Khusus tentang signage, masyarakat yang selalu bergerak dari satu tempat ke tempat lainnya adalah peluang bagi terciptanya bahasa universal berupa simbol-simbol, piktogram (gambar berupa penyederhanaan bentuk dan aktivitas suatu objek). Dalam urusan ini, desainer grafis memiliki tanggung jawab membangun pemahaman dan memberi kemudahan melalui penciptaan bahasa-bahasa visual yang komunikatif bagi keperluan masyarakat pengguna informasi di suatu lingkungan.
Seorang perancang grafis sekaligus penulis yang bernama Matt Soar, mengatakan katanya banyak yang beranggapan perancang grafis tidak rajin membaca bahkan dengan pesimis dia mengatakan jangan-jangan bukunya dibeli dan dibaca oleh seorang yang non-graphic designer. Dan begitulah yang terjadi ketika ada orang yang tadinya tidak belajar desain komunikasi visual secara formal tapi kok mengerjakan desain grafis, ngomong tentang desain grafis dan hidup dari mendesain grafis?. Ketika kita mengikut sertakan karya desain dalam sebuah ajang lomba (entah logo ataupun iklan), ternyata saingan kita tidak hanya berasal dari mahasiswa dan profesi desainer grafis, tapi dari segala jurusan, Lho bagaimana ini?.
”Ya sudah memang sekarang jamannya seperti itu!”, kata yang gak mau susah, ”Ini kan era barrier free, era informasi, borderless dan sebagainya yang ujung-ujungnya desain grafis milik semua orang, komputer banyak yang sudah punya, siapa saja yang bisa software grafis dan bisa gambar, bisa jadi desainer grafis!” Ah kalau ada yang bilang begini suka jadi desperate deh!. Iya sih kalau sekedar komposisi, taruh bidang disini, taruh gambar disitu, pilih warna, pilih font yang manasuka, ya sudah ! klik sana, klik sini, gak cocok tinggal ctrl z, undo, retouch sedikit, kasih sulur-sulur , tambahin daun dan bunga yang lagi menjamur jangan lupa pakai vector art, A-ha! jadilah desain grafis, desain grafis yang mudah dilupakan, tak berefek dan tak bergaung, serta menuh-menuhin tempat sampah.
Bagi seorang desainer yang mengklaim diri sebagai orang kreatif, membaca berarti banyak hal; membaca seperti pengertian umum tadi, menyimak lingkungan sekitar, mengamati berbagai kejadian, menonton tayangan film, melihat iklan, pertunjukkan wayang, berinteraksi disepanjang jalan, melihat orang sibuk tawar menawar di kaki lima, mengantri di ATM, melihat gadis cantik, melirik cowok yang wangi, mendengar curhat teman adalah membaca. Mengingat dkv sendiri memiliki ikatan dengan social milieu atau suasana kemasyarakatan, maka semua yang ada dilingkungan sekelilingnya adalah bahan bacaan yang memberi pengetahuan, wawasan, pengayaan, bahan renungan dan hiburan yang tentunya diperlukan disaat seorang perancang memecahkan masalah komunikasi visual secara kreatif. Hal diatas benar adanya tapi bisa jadi terasa sebagai sebuah pembenaran, artinya siapa bilang desainer grafis nggak suka membaca?.
Kembali ke topik , membaca diartikan sebagai menyimak rangkaian huruf-huruf, angka dan tanda baca ( karakter) menjadi kata kemudian menjadi kalimat-kalimat dalam beberapa paragraf berupa pokok pikiran dan membentuk sebuah makna yang dapat ditangkap maksudnya, tersurat diatas selembar kertas, didalam sebuah buku, koran, majalah tabloid, running text, SMS, internet atau apa saja yang memang bisa dibaca.
Kegiatan membaca dalam artian umum adalah mencari informasi dari membaca ( teks atau hyperteks) menafsirkan isi dan menyimpan dalam memori kita untuk kemudian dikeluarkan kembali suatu hari disaat diperlukan. Mencari informasi sesuai dengan bidang yang kita dalami, desain grafis, multimedia dan advertising, seni rupa, desain secara umum, seputar problem solving, bahasa visual, linguistik ( karena desain grafis juga berakar dari bahasa), menyimak teori-teori komunikasi visual, tentang kreativitas dan bagaimana menjadi kreatif, informasi teknologi cetak, mencoba memahami apa dan bagaimana brand dan branding, apa itu information design, apa itu creative economy, dan apa gerangan knowledge economy, apa maksudnya serial monotony, apa perlunya differenciate, kenapa kalau ga differenciate kita die? Membaca yang seperti inilah yang jarang sekali dilakukan oleh para calon desainer grafis, kalaupun (terpaksa) membaca , ya brief seputar masalah yang lagi jadi project saja atau yang paling sering dibaca adalah software tutorial dan buku buku yang sifatnya referensi visual. Mungkin tidak jarang pekerjaan desainer grafis dianggap pekerjaan non-intellectual dan non-literary karena hanya mengedepankan keterampilan visual dan hanya bersifat permukaan (profan). Harus diakui bahwa membaca-pun harus dipelajari dan dilatih, diperlukan stamina dalam membaca teks-teks sulit. Menurut Quentin Newark, desainer yang paling rajin membacapun masih kurang jumlah membacanya jika dibandingkan dengan profesi lain seperti sosiolog, sastrawan dan profesi engineering. Padahal tidak ada alasan bagi seorang perancang untuk knowless, jadi jika seorang perancang grafis ingin berbuat lebih banyak untuk lingkungannya, ia harus tahu lebih banyak.
Menurut Max Bruinsma, yang situsnya www.maxbruinsma.nl (sebagian besar mahasiswa desain grafis di dunia, mengakses situs ini, coba deh di klik!) seorang perancang grafis mempunyai tanggung jawab tidak hanya sebagai problem solver tapi bertanggung jawab dalam menciptakan perubahan besar, bukan karena ia mampu membuat dan menyajikan bahasa rupa yang ’apealling’ tapi karena ia harus mampu bahkan ahli dalam hal komunikasi yang imajinatif serta membangun pesan yang dapat dipahami khalayak luas. Oleh sebab itu seorang desainer grafis adalah agen budaya, berasal dari kebudayaan dan turut membentuk kebudayaan dan menjadi jembatan antar budaya dalam masyarakat. Dalam kondisi sekarang dimana jaringan begitu kuatnya, ada yang harus dipedulikan oleh seorang desainer dalam bekerja, budaya, sub-budaya, gaya hidup, kelompok organisasi, komunitas khusus, special interest dan berbagai hal yang dalam kehidupan sehari-hari saling mempengaruhi. Semuanya adalah informasi berharga.
Peran pendidikan desain? Dunia bisnis sudah berubah banyak, desain grafis berkembang menjadi desain komunikasi visual ( meskipun kurang lebih secara definisi tak jauh berbeda) , ketika perilaku membeli masyarakat sudah berubah banyak, dari mencari feature, ke benefit lalu ke experience kemudian ke tribal identification (Marty Neumeyer, the Brand Gap), ketika perilaku mengakses informasi sudah jauh berbeda dengan mengakses informasi di akhir tahun delapan-puluhan dan disaat masyarakat membutuhkan kebaruan yang bersifat here and now, kebanyakan pendidikan desain komunikasi visual masih menggunakan jurus-jurus lama. Memang tidak semuanya obsolete, tentang seni rupa, sampai saat ini nilai-nilai pendidikan Bauhaus masih dipakai oleh semua pendidikan desain, harmoni, warna, irama, keseimbangan dan kesatuan masih sama seperti dulu hukumnya, begitu pula dengan gambar anatomi manusia belum ada perubahan, tapi tentang komunikasi visual dimana banyak hal baru terjadi, masih banyak ajaran yang sudah usang namun tetap digunakan, banyak teori yang sudah basi tapi masih diberikan. Banyak strategi-strategi konvensional masih jadi andalan. Kesemuanya berguna untuk diketahui tapi pada penerapannya tentu perlu disandingkan dengan teori-teori baru. Metoda pemecahan masalah cara baru perlu juga dijelajah agar menghasilkan solusi dengan kreativitas yang segar dan relevan secara look and feel.
Di lingkungan pendidikan desain, gairah membaca yang rendah inilah yang menjadi salah satu biang keladi kenapa bahasan dan kajian mahasiswa itu-itu saja dari tahun ke tahun, topik kampanye yang itu-itu lagi, Corporate Identity lagi, bikin buku cerita lagi, Graphic novel lagi, alat bermain lagi, video klip lagi dan kehadiran merchandise yang ga kreatif dan dipaksakan, metoda yang digunakan itu-itu lagi, yang berubah hanya mahasiswa yang menggarapnya, setiap mahasiswa, pengajar sekaligus pendidik, tentunya berkewajiban membuka pintu kajian selebar-lebarnya, untuk membuka pintu yang lebih banyak, perlu kunci yang lebih beragam pula, kuncinya adalah kekayaan pemikiran yang salah satu sumbernya adalah membaca.
Desain komunikasi visual sejauh yang saya ketahui adalah sebuah kegiatan menyampaikan pesan ( message making, meaning making) melalui visual secara kreatif berbasis seni dan bahasa pada media dua, tiga dan empat dimensi. Kalau meminjam definisinya Moira Cullen, dkv atau desain grafis adalah suatu disiplin hasil persenyawaan seni, teknologi dan ilmu sosial; yang vital bagi proses form-giving (pewujudan), way-finding (proses pemahaman) dan dalam meaning-making (penciptaan makna). Pengertian dkv semakin hari semakin berkembang tergantung perubahan yang terjadi pada siapa yang akan menerima pesan, kondisi lingkungan sosial dan budaya penerima pesan. Hal ini membuat pekerjaan merancang komunikasi visual tidak hanya menciptakan hiburan bagi mata, namun harus menyuguhkan sesuatu yang asosiatif, relevan dan edukatif dengan cara yang tidak biasa sehingga menghasilkan pesan pesan yang memorable. Masyarakat saat ini sebisa mungkin menghindar dari pesan-pesan yang tidak dibutuhkan seperti iklan (namun tampak mustahil), mau tak mau dihadapkan pada ribuan pesan , melihat kemudian memilah, membuang, sebagian kecil diingat sebagian besar dilupakan. Semua perancang pasti mengharapkan pesannya diingat, disimpan oleh audience dalam benaknya , meskipun sebenarnya secara fisik hasil rancangan desainer grafis bersifat ephemeral namun apa yang tertanam di pikiran audience lebih lama ketimbang daya tahan wujud fisik desain itu sendiri, koran bisa berganti tiap hari, majalah, tabloid dan situs terus mengup-date setiap saat, tidak ada yang abadi kecuali pesan yang kuat. Untuk membuat pesan yang kuat yang sesuai masanya, mau tak mau updating jadi perlu. Jika seorang perancang banyak membaca maka apa yang dirancangnya pasti pantas dibaca.
Dari berbagai alasan penyebab tidak membaca, seperti; ribet, bahasa Inggeris sih, EYD nya nggak ok, belum sempat, buku mahal, kebanyakan proyek dan banyak tugas menyebabkan (mahasiswa) desainer grafis tidak suka menulis, menulis juga bagi orang kreatif bisa berbagai macam, menggambar adalah menulis, membuat karikatur, merancang kemasan, merancang poster, merancang logo adalah menulis, membimbing dan memberi konsultasi pada mahasiswa juga menulis, namun kualitas tulisan akan bergantung pada seberapa dalam pembahasannya, kualitas desain akan bergantung pada seberapa dalam risetnya, seberapa tajam analisisnya, you are what you read dalam menghasilkan bahasa rupa memang terbukti.
Hal yang memprihatinkan dari arus informasi saat ini adalah berkembangnya seni klik, semuanya tinggal klik, copy, paste pindahkan ke Word, ganti font, ubah spasi, jadilah artikel hasil klik sana, drag sini. Tanpa perlu disimak lebih dalam, tambahkan sedikit kata-kata sendiri agar tidak berkesan plagiat lalu susun jadi beberapa halaman A4, jadilah paper, itulah yang sering saya hadapi ketika harus memeriksa tugas paper mahasiswa, belum lagi bantuan program penerjemah bahasa Inggeris ke bahasa Indonesia, bahasa Inggerispun (seolah) tak masalah, tinggal koreksi, ubah sedikit kalimat-kalimat ’thanks to technology!’ kalau sudah begini, ada tanggung jawab yang berbicara.
Kata Ferdnand Baudien, seorang typographer, menulis adalah seni mengawetkan pemikiran dan bahasa dalam bentuk tulisan. Dengan menulis, sebuah bahasa terpelihara. Tulisan yang baik tentu saja berguna bagi orang lain yang membacanya, dengan begitu, sebuah pemikiran disepakati, dibantah, dibuat antithesisnya dan kemudian dikoreksi, dikembangkan dan bercabang. Memang, siapa lagi yang akan mengembangkan bidang dkv kalau bukan para perancang, mahasiswa dan dosen dkv, Jadi tak perlu resah lagi ketika teman-teman yang bukan desainer meloncati pagar ”menggarap desain grafis”, desainer sejati seharusnya lebih tahu hakikat merancang grafis, siapa pun tak membuat seseorang menjadi desainer yang buruk selama memiliki bekal pengetahuan dan selalu membuka mata telinga dan pemikiran terhadap informasi baru. Dengan membaca, kemampuan menulis, bicara, presentasi dan kematangan hasil rancangan akan berkembang dengan sendirinya, dengan membaca kemampuan menyaring dan memilah informasi akan tumbuh dan merangsang pemikiran baru because mind is something that other people can’t take it away from you. ( WI, 0208).
Referensi Buku, artikel, situs : Bierut, Michael, Steven Heller, Looking Closer 4, Allworth press, 2002 Heller Steven, The Education of graphic designer, Allworth press, 2005 Soar, Matt, Theory and graphic designer Newark, Quentin:Least designed and most read Meggs, Phllip B; Text, Type and image Mc.Coy, Catherine, Graphic design education www.maxbruinsma.nl