Tempat ini benar-benar ada, meskipun namanya Gunung Bohong. Sebuah
segitiga kecil dalam peta Bandung, sebuah titik kecil dalam peta Jawa
Barat dan sudah tak tampak bila kamu membuka peta Indonesia. Aku adalah salah satu penduduknya yang sejak lahir
tinggal disini. Di sebuah titik yang tak terlihat.
Sampai hari
ini, aku malu sekali bila harus menyebutkan alamat rumahku, tapi kalau
tidak aku sebutkan, pasti tukang becak tidak akan bisa mengantarkanku
pulang. Dulu sewaktu SD, jika aku harus menyebutkan alamat lengkapku secara panjang lebar
seperti ini, jalan Panembakan, Kampung Sukasari, Desa Padasuka yang mau
ke Pondok Dustira setelah Warung Contong dekat jalan kereta api, maka
tukang becak akan menjawab
” Oh Gunung Bohong, bilang dong dari tadi, kan beres” ” seribu aja”
Tidak
pernah ada yang tahu kenapa namanya Gunung Bohong, bahkan kakek-kakek
tertuapun yang masih ada di kampungku pasti menggeleng-gelengkan
kepalanya kalau ditanya kenapa kampung kami bernama Sukasari apalagi
kalau ditanya asal-usul nama Gunung Bohong.
Aku merasakan betapa
tidak enaknya orang mengaitkan nama tempat tinggal dengan sikap yang
kita miliki atau perbuatan yang kita lakukan. Pernah sekali waktu aku
bercerita pada temanku di sekolah tentang sebuah foto yang dibawa
sepupuku dari Jakarta, Sepupuku seorang prajurit angkatan laut, Ia
membawakan gambar yang tak pernah kulihat sebelumnya, gambar seekor ikan
berkaki manusia yang terdampar di pinggir pantai,( yang baru aku tahu setelah kuliah kalau itu adalah foto hasil montage) ketika kuceritakan
pada teman-temanku, mereka langsung menuduhku berbohong, memang pasti
banyak yang tidak akan percaya ada ikan berkaki manusia tapi aku
janjikan besok hari aku akan perlihatkan fotonya.
Sepulang
sekolah aku pun langsung kerumah uwaku dan ternyata sepupuku sudah
kembali ke Jakarta, begitu pula foto aneh yang tadinya mau aku pinjam..
Ah, terlambat pikirku. Besok aku harus menerima tertawaan teman-temanku
besok dan benar saja, ” Tuh kan udah dibilang pasti bohong, mana ada
ikan berkaki manusia, ada-ada saja kamu dasar orang Gunung Bohong,
bohongnya segunung!”
Selanjutnya adalah hari-hari yang berat
ketika aku harus menyampaikan sesuatu, teman-temanku selalu curiga
kalau-kalau perkataanku bohong. Padahal aku bukan orang yang suka
berbohong, kadang-kadang kita bicara apa adanya namun apa yang akan
dibicarakan harus kita pikirkan akibatnya. Kalau tadi pagi aku bilang
makan nasi goreng, pasti mudah sekali untuk dipercaya meskipun
sebenarnya tadi pagi aku tidak sarapan, tapi mengatakan sesuatu seperti
ikan berkaki manusia meskipun kita benar-benar melihat gambarnya, maka
terlalu bersusah payah mengatakan bahwa itu benar dan jadi hal yang
sia-sia.
Ada hal lain yang aku yakini bertahun-tahun bahwa itu
benar adalah tentang ulat berteriak, nenekku pernah bercerita ketika ia
masih sangat-sangat kecil, ia masuk ke hutan dan ia mendengar sebuah
jeritan tinggi yang dikiranya suara monyet atau burung. Ternyata setelah
didekati, suara itu berasal dari seekor ulat sebesar lengan yang
sedang membuka mulutnya dan mengeluarkan suara melengking seakan
berteriak. Aku sungguh terpukau dengan kisah itu meskipun disaat
kuceritakan kembali pada temanku ia tertawa terbahak-bahak atau lebih
tepatnya prihatin dan menyarankanku agar lebih cermat membaca
ensiklopedi dan nonton Discovery Channel untuk memikirkan kembali
tentang keberadaan ulat yang bersuara dan berteriak. Ia juga mengatakan
bahwa nenekku pastinya seorang Ventriloquist yang hebat.
Sebuah
kebohongan terkadang baru disadari setelah bertahun-tahun lamanya.
Banyak sekali alasan dibalik kenapa seseorang berbohong. Aku adalah anak
kecil yang sangat-sangat menjengkelkan, bagiku sendiri dan bagi orang
lain, namun nenekku sayang padaku, karena kupikir, aku menerima cinta
yang tidak kurang dari cinta yang diterima orang lain, terbukti ketika
selama hampir tiga tahun aku tinggal bersama nenek, ia selalu peduli
padaku. Karena aku sering bermain sendiri jauh hingga ke sungai yang tak
pernah boleh aku sebrangi atau masuk ke tengah kebun karet yang jauh
dan gelap. Terpaksa nenekku bercerita tentang ulat yang bersuara untuk
membuatku takut dan tidak lagi main ke tempat yang jauh tanpa ditemani
dan aku percaya karena nenekku yang bicara.
Gunung Bohong bagiku
adalah tempat yang selalu aku rindukan, seburuk apapun kesan yang
ditimbulkan dari namanya. Tidak jarang orang penasaran bertanya ”apakah
itu artinya tidak ada gunung?”
” Tentu saja ada”
”Apa mungkin dulunya pernah menghilang?”
”Nggak tahu juga”
”Atau
mungkin penduduknya tukang bohong ya?”. Pertanyaan ketiga tentunya
paling berat untuk dijawab, meskipun perlu waktu lama untuk membuktikan
bahwa banyak dari penduduk Gunung Bohong yang hidupnya berhasil karena
kejujurannya.
Harus aku catat dengan huruf besar bahwa bohong bukan
perbuatan yang baik karena bohong artinya tidak jujur, menutupi
kebenaran dan tidak disukai.
Disadari atau tidak banyak sekali
nama daerah yang terdengar tidak enak ditelinga, bahkan membuat warganya
malu menyebut alamat rumahnya sama seperti aku karena takut dikaitkan
dengan apa yang ada pada diriku. Bayangkanlah sebuah nama seperti ”
Legok Hangseur yang dalam bahasa Indonesia artinya adalah sebuah daerah
cekungan semacam lembah yang berbau pesing. Kampung kacepet yang artinya
kampung terjepit, entah apanya yang terjepit. Satu lagi daerah yang aku
tahu adalah Kandang Babi yang katanya dulu ketika Belanda masih
menduduki Indonesia, Cimahi adalah pusat kemiliteran dan ada seorang
pengusaha Cina yang mempunyai peternakan babi untuk memasok kebutuhan
daging para tentara Belanda dan kaum Tionghoa, selanjutnya tempat ini
diidentifikasi oleh orang yang akan menuju dan kembali dari daerah itu
sebagai Kandang Babi, meskipun bekas-bekas kandang babi itu tak tampak
sama sekali. Kandang Babi adalah daerah yang berdampingan dengan Gunung
Bohong. Siapa yang mau mengatakan rumahnya di kandang babi?
Cerita ini biasa saya sampaikan ketika akan kuliah tentang City Branding, terutama yang berkaitan dengan Penamaan / Naming.
(cuplikan dari sejuta jendela, wiwi isnaini, 2007)
Tampilkan postingan dengan label city branding. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label city branding. Tampilkan semua postingan
Jumat, 08 November 2013
Langganan:
Komentar (Atom)